SUMENEP, detakkota.com – Pertanyaan mengenai mengapa Kabupaten Sumenep tak kunjung menjadi tuan rumah Kerapan Sapi Piala Presiden kembali mencuat di Tahun 2026 ini. Padahal, sebagai bagian dari Madura, Sumenep memiliki akar budaya kerapan sapi yang sangat kuat.
Salah satu persoalan yang patut mendapat perhatian adalah, kondisi Stadion Giling Sumenep yang sebagian areanya kini digunakan untuk aktivitas perdagangan atau pasar.
Kondisi tersebut terlihat dari keberadaan lapak-lapak pedagang yang berdiri di kawasan sekitar stadion. Aktivitas perdagangan bahkan membuat sejumlah bagian kawasan stadion kehilangan kesan sebagai fasilitas olahraga dan ruang publik yang representatif.
Pertanyaan sederhana pun muncul: sebenarnya Stadion Giling diperuntukkan sebagai stadion atau kawasan pasar? Jika Sumenep ingin menjadi tuan rumah event sebesar Kerapan Sapi Piala Presiden, tentu persoalan venue tidak bisa dianggap sepele.
“Event berskala nasional membutuhkan kawasan yang tertata, akses keluar-masuk yang memadai, area penonton, parkir, keamanan, fasilitas pendukung serta lingkungan sekitar yang mampu memberikan gambaran bahwa daerah tersebut siap menjadi tuan rumah,” ucap salah satu pemilik sapi kerap.
Namun, kondisi Stadion Giling saat ini justru memunculkan tanda tanya. Bagaimana mungkin Sumenep ingin menjadi tuan rumah event kerapan sapi bergengsi, jika salah satu fasilitas yang seharusnya bisa menjadi kebanggaan daerah justru bercampur dengan aktivitas pasar?
“Keberadaan pasar di kawasan stadion setidaknya perlu dikaji secara serius oleh pemerintah daerah. Apakah aktivitas tersebut memang sesuai dengan peruntukan kawasan? Apakah ada izin atau dasar kebijakan yang mengatur pemanfaatan area tersebut? Dan yang paling penting, apakah kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat Sumenep belum mampu menjadi tuan rumah Kerapan Sapi Piala Presiden? Bukan Kekurangan Tradisi, Tapi Persoalan Tata Kelola, ” tuturnya.
Ironisnya, Sumenep sebenarnya tidak kekurangan potensi. Tradisi kerapan sapi sudah melekat dalam kehidupan masyarakat Madura. Penggemar, pemilik sapi kerap dan pelaku budaya juga tersedia.
Yang menjadi persoalan adalah bagaimana pemerintah daerah menyiapkan infrastruktur dan tata kelola kawasan agar potensi tersebut bisa diangkat ke level yang lebih tinggi.
“Kerapan sapi bukan hanya perlombaan. Di dalamnya terdapat budaya, pariwisata, ekonomi masyarakat dan identitas daerah. Jika event Piala Presiden bisa memberikan dampak ekonomi dan promosi daerah, tentu menjadi sebuah kerugian apabila Sumenep terus gagal mendapatkan kesempatan sebagai tuan rumah,” ujarnya.
Dirinya menantang Pemkab Sumenep untuk berbenah dan membuka persoalan ini kepada publik. Jika memang keberadaan pasar di kawasan Stadion Giling bukan kendala, pemerintah perlu menjelaskan alasannya. Sebaliknya, jika kondisi tersebut menjadi salah satu hambatan, maka langkah penataan harus segera dilakukan.
“Jangan sampai Stadion Giling hanya menjadi tempat aktivitas perdagangan, sementara fungsi olahraga dan kebudayaannya semakin terpinggirkan. Masyarakat juga patut mengetahui apa sebenarnya konsep pemerintah untuk stadion giling?,” pungkasnya.
Catatan Redaksi : Selama persoalan tersebut tidak diselesaikan, pertanyaan yang sama akan terus muncul: Mengapa Kerapan Sapi Piala Presiden tidak pernah bisa dilaksanakan di Sumenep?
Dan jika salah satu jawabannya adalah persoalan kesiapan venue, maka keberadaan pasar di area Stadion Giling layak menjadi salah satu hal pertama yang harus dibenahi.
Sumenep tidak kekurangan budaya. Sumenep tidak kekurangan tradisi. Yang dipertanyakan adalah, apakah pemerintah benar-benar serius menyiapkan rumah yang layak bagi budaya tersebut?
Penulis : Bam's
Editor : Udix









