SUMENEP, detakkota.com – Fenomena kosongnya stok Pertalite di sejumlah SPBU di Kabupaten Sumenep mulai memicu tanda tanya. Saat masyarakat yang datang ke SPBU harus pulang dengan tangan hampa karena BBM bersubsidi disebut tidak tersedia, bensin di tingkat pengecer justru terlihat tetap ready.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius: ke mana sebenarnya larinya BBM bersubsidi tersebut?.
Pantauan di lapangan, sejumlah warga mengaku kesulitan mendapatkan Pertalite. Di beberapa SPBU, kendaraan roda dua maupun roda empat harus mencari tempat pengisian lain lantaran stok Pertalite kosong atau pelayanan dihentikan sementara.
Namun situasi berbeda terlihat di sejumlah tempat penjualan bensin eceran. Botol-botol dan jeriken berisi bensin masih tersedia dan siap dijual kepada masyarakat, tentu dengan harga yang jauh lebih tinggi dibanding harga resmi di SPBU.
Fenomena ini membuat masyarakat bertanya-tanya mengenai distribusi BBM bersubsidi di Kabupaten Sumenep.
“Di SPBU katanya kosong, tapi di pinggir jalan bensin eceran masih banyak. Kalau memang distribusi sedang bermasalah, kenapa di eceran justru masih ada?” ungkap warga Desa Kolor. Rabu (2-9-2026).
Pertanyaan tersebut bukan tanpa alasan. Pertalite merupakan BBM yang mendapat subsidi dan diperuntukkan bagi masyarakat sesuai ketentuan yang berlaku. Karena itu, kelangkaan di SPBU sementara bensin mudah ditemukan di tingkat pengecer patut mendapat perhatian serius.
Pihaknya mendesak adanya transparansi terkait distribusi BBM bersubsidi ke sejumlah SPBU di Sumenep. Mulai dari jumlah kuota yang diterima, stok yang disalurkan, hingga kemungkinan adanya kebocoran dalam rantai distribusi perlu ditelusuri secara terbuka.
“Jangan sampai BBM bersubsidi yang seharusnya dinikmati masyarakat justru berubah menjadi barang yang sulit diperoleh di SPBU, tetapi mudah ditemukan melalui jalur-jalur tidak resmi dengan harga lebih mahal,” tuturnya.
Jika benar terjadi kelangkaan akibat keterlambatan pasokan, maka pihak terkait perlu menjelaskan secara terbuka kepada masyarakat. Sebab, tanpa penjelasan yang transparan, kondisi tersebut akan terus memunculkan dugaan dan spekulasi.
Lebih jauh, instansi terkait juga perlu memastikan apakah bensin yang dijual secara eceran berasal dari jalur distribusi yang legal atau terdapat dugaan penyalahgunaan BBM bersubsidi.
“Di tengah kosongnya Pertalite di sejumlah SPBU, keberadaan bensin eceran yang justru terlihat selalu siap menjadi tanda tanya besar: apakah benar BBM bersubsidi sedang langka, atau ada persoalan dalam mata rantai distribusinya?,” pungkasnya.
Kini publik menunggu jawaban. Ke mana larinya Pertalite ketika SPBU kosong, sementara bensin eceran tetap tersedia di berbagai tempat?
Pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dan pihak terkait diharapkan tidak menutup mata terhadap persoalan tersebut. Jika memang ada permainan atau penyimpangan dalam distribusi BBM bersubsidi, maka penelusuran harus dilakukan secara menyeluruh.
BBM bersubsidi adalah hak masyarakat, bukan komoditas untuk mencari keuntungan segelintir pihak.
Penulis : Bam's
Editor : Udix








