SUMENEP, detakkota.com —Di tengah hamparan lahan pertanian Desa Poreh, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, sejumlah petani yang tergabung di Kelompok Tani (Poktan) El-Amin, bergotong royong membangun sebuah rumah sederhana. Bukan rumah untuk manusia, melainkan rumah bagi burung hantu.
Bagi Kelompok Tani (Poktan) El-Amin, rumah sederhana tersebut memiliki arti penting. Rumah Burung Hantu atau RUBUHA dibangun sebagai salah satu ikhtiar untuk menghadapi hama tikus yang kerap mengancam tanaman dan harapan para petani.
Pembangunan RUBUHA dilakukan secara swadaya oleh BPP Kecamatan Lenteng bersama Poktan El-Amin Desa Poreh. Kegiatan tersebut mendapat pendampingan dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Wibi serta Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT).

“Di balik tiang dan rumah sederhana yang dibangun bersama itu, tersimpan sebuah harapan. Para petani ingin menghadirkan kembali keseimbangan alam di lahan pertanian mereka dengan memanfaatkan burung hantu sebagai predator alami tikus,” ucap Kordinator Penyuluh Kecamatan Lenteng, Saddam Susilo. Rabu (2-9-2026).
Masih kata Saddam, Tikus selama ini menjadi salah satu hama yang cukup meresahkan petani. Serangannya tidak hanya merusak tanaman, tetapi juga dapat mengancam hasil panen yang telah lama dinantikan.
Karena itu, langkah membangun Rumah Burung Hantu bukan sekadar pembangunan sebuah sarana. Bagi petani, ini adalah bentuk ikhtiar untuk menjaga tanaman sekaligus membangun pertanian yang lebih ramah terhadap lingkungan.
“Melalui pendampingan PPL dan Petugas POPT, para petani diajak memahami bahwa pengendalian hama tidak selalu harus bergantung pada bahan kimia. Alam memiliki keseimbangannya sendiri, dan burung hantu menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga keseimbangan tersebut,” terangnya.
Gotong royong pun menjadi semangat utama dalam pembangunan RUBUHA. Dengan kemampuan dan sumber daya yang dimiliki, petani Poktan El-Amin bersama-sama membangun rumah bagi predator alami tikus tersebut secara swadaya.
“Yang dibangun bukan hanya rumah burung hantu, tetapi juga harapan untuk menjaga tanaman dan hasil panen,” tuturnya.
Di tengah tantangan pertanian yang semakin kompleks, langkah sederhana para petani Desa Poreh itu membuktikan bahwa gotong royong dan keselarasan dengan alam masih menjadi kekuatan penting untuk menjaga harapan di setiap musim tanam.
“Terkadang, harapan besar memang dimulai dari sebuah rumah kecil di tengah sawah. Ketika manusia menjaga alam, alam pun perlahan belajar kembali menjaga manusia,” pungkas Saddam.
Penulis : Bam's
Editor : Udix








