SUMENEP, detakkota.com –Pelaksanaan Madura Culture Fest (MCF) #4 Tahun 2026 di Kabupaten Sumenep, Madura disebut akan memiliki konsep berbeda dibanding pelaksanaan pada tahun-tahun sebelumnya. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah munculnya informasi bahwa kegiatan tersebut tahun ini dikabarkan digelar tanpa menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Berdasarkan poster kegiatan yang beredar, Madura Culture Fest #4 dijadwalkan berlangsung pada 26 Agustus hingga 4 September 2026 di Stadion Ahmad Yani Sumenep. Sejumlah agenda tercantum dalam rangkaian kegiatan, mulai dari Madura Night Vaganza, Festival Desa Wisata Madura, Festival Tari Nasional, Festival Kopi, Festival Tembakau Madura, E-Sport Competition, konser musik, expo UMKM dan kuliner, hingga parade musik tong-tong.
Kegiatan tersebut juga disebut melibatkan 20 kabupaten/kota di Jawa Timur, serta diikuti unsur OPD, BUMD, BUMN, perusahaan swasta, CV hingga perbankan.
Namun, informasi mengenai sumber pembiayaan kegiatan menjadi pertanyaan tersendiri. Jika benar penyelenggaraan MCF #4 tahun ini tidak menggunakan APBD dan seluruh pembiayaan ditangani pihak event organizer (EO) bersama sponsor, publik tentu ingin mengetahui seberapa besar kesiapan pembiayaan tersebut.
Pertanyaan sederhananya, mampukah pihak EO membiayai seluruh rangkaian kegiatan tanpa dukungan APBD? Kemudian, sejauh mana sponsor mampu meng-cover kebutuhan anggaran kegiatan yang berlangsung selama beberapa hari dan melibatkan banyak agenda serta peserta dari berbagai daerah?.
Pertanyaan tersebut dinilai wajar mengingat skala kegiatan yang cukup besar. Selain menghadirkan berbagai pertunjukan dan kegiatan, MCF #4 juga membawa nama Kabupaten Sumenep sebagai tuan rumah sekaligus bagian dari promosi kebudayaan Madura.
Pada pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya, kegiatan serupa disebut mendapat dukungan anggaran daerah dengan nilai yang mencapai ratusan juta rupiah. Namun, besaran anggaran maupun mekanisme pembiayaan pada pelaksanaan sebelumnya perlu dikonfirmasi secara resmi kepada Pemkab Sumenep agar tidak menimbulkan persepsi yang keliru di tengah masyarakat.
“Jika tahun ini benar-benar dilaksanakan secara non-APBD, maka perubahan pola pembiayaan tersebut patut diapresiasi. Sebab, penyelenggaraan kegiatan berskala besar dengan mengandalkan pembiayaan dari sponsor dan pihak swasta dapat menjadi model baru dalam pelaksanaan event daerah, sekaligus mengurangi beban anggaran pemerintah,” ucap Alung Warga Sumenep.Rabu (26-8-2026).
Meski demikian, aspek transparansi tetap menjadi kunci. Masyarakat berhak mengetahui siapa penyelenggara kegiatan, bagaimana pola kerja sama dengan Pemkab Sumenep, dari mana sumber pembiayaan, serta apakah terdapat dukungan dalam bentuk fasilitas maupun pembiayaan tidak langsung dari pemerintah daerah.
“Sebab, label “non-APBD” seharusnya tidak berhenti pada klaim semata. Perlu ada penjelasan terbuka mengenai skema pembiayaannya, terutama jika kegiatan tersebut tetap melibatkan fasilitas pemerintah, penggunaan aset daerah, dukungan OPD, pengamanan, maupun bentuk dukungan lainnya,” ujarnya.
Alung berharap, Pemkab Sumenep dan pihak penyelenggara dapat memberikan penjelasan secara terbuka agar pelaksanaan Madura Culture Fest #4 tidak hanya meriah secara acara, tetapi juga jelas dari sisi anggaran, sumber pembiayaan dan pertanggungjawaban publik.
“Dengan demikian, masyarakat tidak lagi bertanya-tanya apakah MCF #4 benar-benar murni dibiayai EO dan sponsor, atau masih terdapat dukungan APBD maupun fasilitas pemerintah dalam bentuk lain,” pungkasnya.
Publik kini menunggu penjelasan resmi Pemkab Sumenep: benarkah Madura Culture Fest #4 tahun 2026 benar-benar nol APBD?
Penulis : Bam's
Editor : Udix





