SUMENEP, detakkota.com – Sejumlah website resmi desa di Kabupaten Sumenep kembali menjadi sorotan. Meski dibuat dengan anggaran yang disebut mencapai puluhan juta rupiah, keberadaannya dinilai hanya menjadi “cangkang kosong” karena tidak difungsikan sebagaimana mestinya sebagai media pelayanan dan keterbukaan informasi publik.
Salah satu contohnya terlihat pada Website Desa Basoka, Kecamatan Rubaru. Dari tampilan beranda, situs tersebut memang menampilkan desain yang cukup menarik dengan foto ikon desa dan tulisan “Selamat Datang di Website Desa Basoka”. Namun ketika ditelusuri lebih lanjut, isi website dinilai minim informasi, jarang diperbarui, dan nyaris tidak memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ironisnya, website yang seharusnya menjadi etalase digital desa itu diibaratkan seperti stan pameran yang megah, tetapi kosong tanpa produk yang dijual. Ada bangunan dan tampilan, tetapi tidak ada konten yang benar-benar dibutuhkan warga.
Padahal, berdasarkan semangat Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, pemerintah desa berkewajiban menyediakan informasi yang mudah diakses masyarakat, mulai dari APBDes, realisasi anggaran, program pembangunan, pelayanan administrasi, hingga potensi desa.
Seorang pemerhati tata kelola desa di Sumenep menilai, website desa tidak boleh sekadar menjadi formalitas untuk menghabiskan anggaran.
“Kalau hanya ada halaman depan tanpa informasi yang diperbarui, itu sama saja papan nama digital. Masyarakat tidak mendapatkan pelayanan maupun transparansi,” ujar M. Surahman. Senin (24-8-2026).
Maman sapaan akrabnya pun mempertanyakan efektivitas penggunaan anggaran pembuatan website desa. Jika nilainya mencapai puluhan juta rupiah, publik berhak mengetahui sejauh mana website tersebut dimanfaatkan dan siapa yang bertanggung jawab atas pengelolaannya.
“Infonya yang di Kecamatan Rubaru itu dipatok harga Rp.15jt dan di koordinir oleh Camatnya, setelah kami telusuri isinya hanya cangkang kosong, fenomena ini hampir sama diseluruh desa se Kecamatan Rubaru, bahkan sudah ada yang mati wabnya dan tidak diperpanjang lagi,” pungkasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Pemerintah Desa Basoka maupun Camat Rubaru belum memberikan keterangan resmi terkait kondisi website desa yang terlihat seperti cangkang kosong tersebut, Redaksi membuka ruang klarifikasi bagi pihak-pihak yang menjadi objek pemberitaan.
Catatan Redaksi: Pemberitaan ini merupakan bentuk kontrol sosial terhadap pemanfaatan aset digital desa dan mendorong optimalisasi website sebagai sarana pelayanan publik, bukan sekadar tampilan seremonial.
Penulis : Bam's
Editor : Udix





